Tentang Case Study

Hola,

Dalam postingan sebelumnya, saya menuliskan sedikit tentang jenis thesis yang bisa diambil di Binus Business School. Kali ini saya akan menuliskan sedikit lebih detail (ingat : s.e.d.i.k.i.t) mengenai case study, terutama karena saya memutuskan untuk mengambil thesis jenis ini. Catatan ini diambil dari presentasi yang telah dijabarkan oleh pembimbing saya, Mr. Robert.

Apa definisi case study ?
A Case typically is a record of a business issue which actually has been faced bu business executives, together with surrounding facts, opinions, and prejudices upon which executive decisions had to depend. These real and particularized cases are presented to students for considered analysis, open discussion, and final decision as to the type of action which should be taken. (Charles I.Gragg. in Leenders & Erskine, 1989

"A case study (or a case) is a description of a situation, or an account of a sequence of events, which raises issues for discussion and'or problems for analysis and solution."

Pembimbing saya menganalogikan case study sebagai kegiatan memotret suatu kejadian di masa lalu dan mencetak gambarnya dengan kacamata teori / ilmu pengetahuan.

Siapakah pelaku case study ?
Bila digambarkan dengan diagram venn, para aktor dalam case study saling beririsan di tengahnya, mereka adalah :
1. Supervisor : supervice thesis process
2. Company : sharing experience
3. Student : connecting concept & practices



.................to be continued

link pembantu :
http://en.wikipedia.org/wiki/Field_research
http://www.audiencedialogue.net/gloss-meth.html
http://editorsiojo85.wordpress.com/2009/03/31/antropologi-hukum/

Tentang Thesis

Hola amigos,

Kali ini saya sengaja menyibukkan diri dengan catatan mengenai progres thesis. Kalo dipikir2, meskipun saya catat di agenda setelah mengikuti seminar, ternyata efeknya kurang terasa... mungkin otak saya sudah sedikit tergelincir untuk mencerna data fisik dan lebih suka mencerna data digital. Oleh karena sebab yang demikian pula (*halah lebay...), saya akan menulis (baca: mengetik) ulang sedikit tentang studi kasus, in case untuk mengadakan pengulangan karena otak yang mulai menumpul.

Ada 3 jenis thesis di Binus Business School :
note : penjelasan di bawah termasuk penjelasan awam disesuaikan dengan yang mampu diserap otak saya, untuk penjelasan dengan bahasa akademis silakan dikonsultasikan dengan dosen pembimbing masing-masing.

1. Research : penelitian yang lebih menjurus ke metode kuantitatif, dibanjiri model-model statistik dan data-data berupa angka, bagan, grafik yang bisa membuat mata pedas. Data kualitatif diikutsertakan sebagai penunjang. Penelitian jenis ini mengkaji hubungan sebab akibat antar berbagai variabel, dapat diaplikasikan pada situasi/kondisi yang lebih umum dibandingkan case study/GFP.

2. Case Study : penelitian ini merupakan bagian dari penelitian kualitatif, aplikasinya lebih spesifik pada suatu perusahaan, tidak selalu ada hipotesis namun dibutuhkan analisis kualitatif atau kuantitatif dalam mencapai kesimpulan. (Keterangan lebih lanjut baca artikel selanjutnya "Tentang Case Study")

3. Group Field Project :
penelitian secara spesifik dalam suatu perusahaan, peneliti terjun langsung dan berkecimpung dalam kegiatan operasional perusahaan dalam rangka pemberian jasa konsultasi.


Project :
Explain why a permission marketing approach is required for a B2C site ?

Analysis :

Berbagai penjelasan mengenai permission marketing dijelaskan sebagai berikut :

Menurut Wikipedia,
Permission marketing is a term coined by Seth Godin in general and specifically. The undesirable opposite of permission marketing is interruption marketing. Marketers obtain permission before advancing to the next step in the purchasing process. For example, they ask permission to send email newsletters to prospective customers.

It is mostly used by online marketers, notably email marketers and search marketers, as well as certain direct marketers who send a catalog in response to a request. This form of marketing requires that the prospective customer has either obtained explicit permission to send their promotional message (e.g. an email or catalog request) or implicit permission (e.g. querying a search engine). This can be either via an online email opt-in form or by using search engines, which implies a request for information which can include that of a commercial nature. To illustrate, consider someone who searches for "buy shoes." Online shoe stores have the searchers' permission to make an offer that solves their shoe problem.

Marketers feel that this is a more efficient use of their resources because the offers are only sent to people that are actually interested in the Product. This is one technique used by marketers that has a Personal marketing orientation. They feel that marketing should be done on a one-to-one basis rather than using broad aggregated concepts like Market segment or target market
Sedangkan menurut Seth Gordon sendiri,
Permission marketing is the privilege (not the right) of delivering anticipated, personal and relevant messages to people who actually want to get them. It recognizes the new power of the best consumers to ignore marketing. It realizes that treating people with respect is the best way to earn their attention.
Mengapa permission marketing penting untuk B2C ?
Karena permission marketing memiliki konsep pendekatan personal yang cocok dengan sistem bisnis B2C. Selain itu karena permission marketing membutuhkan dana yang lebih sedikit daripada kebanyakan advertising lainnya, terutama karena target market yang dituju sudah jelas yaitu orang-orang yang memang membutuhkan informasi yang ditawarkan dalam advertising.









source :
Wikipedia
Permission Marketing
Seth Godin's Blog
Belajar Internet





-Erika-

Project :
Select a particular market sector and assess the past, current, and future customer use of the internet as a medium to select and buy products

Analysis :
Gramedia Bookstore
Gramedia Online


The Past


Toko Buku Gramedia didirikan 02 Februari 1970 oleh P.K. Ojong, yang juga merupakan pendiri KKG, dengan misi turut serta menyebarkan produk pendidikan dan informasi, demi tercapainya cita-cita bersama mencerdaskan kehidupan bangsa, menuju masyarakat baru Indonesia yang berkehidupan Pancasila.


Dari sebuah toko buku kecil berukuran 25 m2,yang berlokasi di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat,Toko Buku Gramedia sampai tahun 2002 telah tumbuh dan berkembang menjadi 50 toko, yang tersebar dibeberapa kota utama di Indonesia.
Seperti layaknya toko buku fisik, setiap customer yang hendak membeli buku harus datang ke toko buku terdekat, membaca resensi pada bukunya langsung baru kemudian memutuskan akan membeli atau tidak.

Mengantisipasi perkembangan ilmu dan teknologi, Toko Buku Gramedia membentuk Gramedia Online.


Gedung Toko Buku Gramedia

The Present


Gramedia Online muncul karena animo masyarakat yang besar terhadap peningkatan trend belanja on-line yang simpel dan praktis. Melihat peluang ini, kompetitor-kompetitor baru pun muncul dengan menawarkan harga yang jauh lebih murah. Fitur yang ada pada Gramedia Online cukup lengkap, mulai dari image cover buku, identitas buku, resensi, harga, stok, dan adanya fitur tambahan yaitu penilaian terhadap isi buku (rating)



penambahan fitur rating pada identitas buku

Namun demikian, Gramedia Online memiliki beberapa kelemahan seperti tampilan website yang kurang menarik, contohnya bila dibandingkan dengan tampilan bukukita.com atau kutukutubuku.com yang lebih bagus. Selain itu, harga yang ditawarkan pun sama dengan harga buku di toko buku fisik, plus masih ada tambahan biaya kirim. Mungkin hal ini disebabkan untuk menjaga agar Gramedia Online tidak menjadi kompetitor yang makan buah simalakama bagi Toko Buku Gramedia.



Tampilan Gramedia Online


Tampilan kutukutubuku.com


Tampilan bukukita.com

The Future

Untuk ke depannya, Gramedia Online bisa menambahkan berbagai strategi e-CRM yang dapat memberikan nilai plus dibanding kompetitor lain meskipun harga yang ditawarkan tetap mahal. Misalnya dengan menambahkan forum para kutu buku, customer service, book rental online, dan lain-lain. Gramedia Online juga bisa memberikan layanan e-book yang dapat diakses oleh member.



Erika

0840000874
Binus Business School

E-Procurement

Proyek :
Critically assess the claims made for cost savings and increased profitability available for e-procurement

Analisis :

Apakah E-procurement itu ?

Bank Dunia menyebutkan sebuah definisi berlapis tiga dari e-Procurement dari segi pemerintahan (electronic Government Procurement, e-GP) dalam E-GP: World Bank Draft Strategy (2003). Tingkat pertama menyatakan bahwa e-GP adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet oleh pemerintahan-pemerintahan dalam melaksanakan hubungan pengadaan dengan para pemasok untuk memperoleh barang, karya-karya, dan layanan konsultasi yang dibutuhkan oleh sektor publik. Definisi tingkat kedua dan ketiga membuat perbedaan tipis antara e-tendering dengan e-purchasing. Sarzana Fulvio di S. Ippolito (2003) menyebut e-Procurement sebagai seperangkat teknologi, prosedur, dan langkah-langkah organisasional yang memungkinkan pembelian barang dan jasa secara online, melalui peluang-peluang yang ditawarkan oleh internet dan e-commerce. Pengertian ini mirip dengan definisi Bank Dunia tetapi menghilangkan “pengadaan karya”. Fitur e-Procurement Pembelian dan penjualan online mengefisienkan proses pengadaan dan mengurangi biaya operasi dengan mengurangi pengeluaran untuk waktu administrasi dan memperpendek birokrasi. Penerapan e-procurement mendorong upaya transaksi dari pusat pembuat pesanan hingga titik kebutuhan pada pengguna desktop bisnis. Hal ini memastikan kesesuaian terhadap perjanjian dengan pemasok yang dipilih melalui katalog online yang mana dilihat-lihat oleh para pengguna untuk menemukan item yang dibutuhkan. Menurut Sarzana Fulvio di S. Ippolito fitur utama e-Procurement meliputi :
  1. Katalog elektronik untuk item-item standar / inti
  2. Kemampuan punch-out ke situs-situs web pemasok untuk produk-produk yang dinamis / bermacam-macam.
  3. Memunculkan kembali daftar-daftar permintaan/belanja untuk item-item yang dibeli secara teratur.
  4. Jalur-jalur persetujuan yang menyatu (built-in) untuk menjalankan kendali anggaran belanja.
  5. Kemampuan untuk memberi laporan informasi manajemen yang detil

Sedangkan dalam kaitannya dengan B2B, Wikipedia menjelaskan e-procurement sebagai berikut,
e-procurement adalah pembelian business-to-business (B2B) dan penjualan barang dan jasa melalui internet maupun sistem-sistem informasi dan jaringan lain, seperti Electronic Data Interchange (EDI) dan Enterprise Resource Planning (ERP). Sebagai sebuah bagian penting dari banyak situs B2B, e-procurement juga kadang disebutkan oleh istilah-istilah lain misalnya supplier exchange. Secara khusus, situs-situs web e-procurement memungkinkan user yang memenuhi syarat dan terdaftar untuk mencari para pembeli atau penjual barang dan jasa. Tergantung pada pendekatannya, para pembeli atau penjual dapat menentukan harga atau mengundang tawaran. Transaksi-transaksi dapat dimulai dan diakhiri. Pembelian yang sedang berjalan dapat memenuhi permintaan customer untuk diskon jumlah atau penawaran khusus. Software e-procurement memungkinkan otomatisasi beberapa pembelian dan penjualan. Perusahaan-perusahaan yang berpartisipasi berharap dapat mengendalikan inventori-inventori secara lebih efektif, mengurangi biaya pembelian agen, dan meningkatkan siklus manufaktur. E-procurement diharapkan dapat diintegrasikan dengan tren Supply Chain Management yang terkomputerisasi

Beberapa pengertian e-procurement yang lain dapat dilihat di sini

Menurut beberapa sumber, perusahaan yang telah menerapkan e-procurement dengan tepat mendapatkan banyak keuntungan, antara lain :
  1. Pengurangan harga pembelian barang (5%-20%)
  2. Pengurangan waktu proses pembelian (25%-30%)
  3. Pengurangan waktu proses penagihan dan pembayaran
  4. Pengurangan biaya administrasi
  5. Peningkatan kemampuan untuk menciptakan/mengelola basis pasokan secara optimal
  6. Memperlancar komunikasi pembeli-penjual
  7. Menunjang pelaksanaan pembelian tepat waktu (just-in-time purchasing)
  8. Menunjang pelaksanaan manajemen rantai pasokan (supply chain management)
  9. Menunjang pelaksanaan kemitraan pembeli-penjual

Meski penerapan e-procurement ini menjanjikan banyak benefit dan beberapa perusahaan telah merasakan dampak positifnya, tetap saja implementasi sistem informasi seperti ini membutuhkan maintenance cost yang tidak sedikit. Bila yang terjadi justru sebaliknya, banyak error dan bug, baik dari software maupun human error, tidak menutup kemungkinan justru penerapan e-procurement ini akan membawa kerugian.


Karena itu, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perusahaan perlu mengadakan beberapa antisipasi dalam hal budgeting plan, training SDM, trial and error, serta yang terpenting adalah melihat kebutuhan perusahaan apakah perlu menerapkan sistem ini atau tidak (menempatkan diri dalam e-channel dengan benar dan telah melakukan analisis 6 strategic decision)



pic source : http://www.businessbreakthrough.co.uk/wp-content/uploads/2008/05/eprocurement-triangles.gif



pic source : http://www.esourcingsolutions.co.uk/Assets/eProcurement%20Page/eprocurement_diagram.jpg

Proyek :
For a company with which you are familiar with, review the six strategy definition choices

Analisis :



Weddingku.com adalah sebuah portal yang mengkhususkan diri sebagai penyedia wedding service. Website ini menyajikan link-link kepada customer dari berbagai vendor partner bisnis yang menyediakan wedding service di berbagai kota, mulai dari pemilihan salon, gaun, dokumentasi, catering, gedung, honeymoon, dan sebagainya. Website ini juga menjadi wadah bagi para calon pengantin dan pengantin baru untuk bertukar pikiran dan informasi dalam suatu forum diskusi.

Berikut adalah 6 strategies decision dari weddingku.com

1.Strategy Channel Priorities : Bricks and clicks
Weddingku.com adalah sebuah portal penyedia layanan jasa persiapan pernikahan yang menjembatani antara kebutuhan vendor / partner bisnis dengan customer. Tidak ada transaksi jual beli dalam weddingku.com, website ini murni menyediakan segala informasi yang berkaitan dengan vendor dan informasi seputar wedding service.
Sedangkan Customer Service dapat dihubungi melalui telepon dan email untuk menanyakan promosi yang disediakan weddingku.com bekerja sama dengan vendor yang berkaitan.
weddingku.com termasuk dalam tipe bisnis B2B sebagai intermediari.

2. Organizational Restructuring and Capabilities : Stategic Partnership
Dalam situsnya, diinformasikan bahwa Weddingku.com bekerja sama dengan :

Dyandra Promosindo
Weddingku.com berkolaborasi dengan Dyandra Promosindo untuk mengadakan festival-festival wedding berskala internasional di tanah air.

Subur Jaringan Cetak Terpadu
Weddingku.com dan Subur bekerjasama untuk menghasilkan produk-produk publishing yang berkualitas untuk para calon pengantin.

Selain 2 partner di atas, weddingku.com juga masih membuka kesempatan luas bagi individu atau perusahaan yang berkualitas untuk menjadi partner bisnis mereka.

3. Business, Service, and Revenue Models
Weddingku.com menjual space iklan dalam website mereka dari vendor-vendor yang bekerja sama maupun tidak yang ingin mempromosikan produk wedding service mereka.

Selain itu, weddingku.com juga menyediakan newsletter bagi para user terdaftar yang berlangganan sehingga mereka mendapatkan informasi terbaru mengenai promosi yang ditawarkan.

Bekerja sama dengan 2 vendor utama, weddingku.com juga mengadakan event seperti Jakarta Wedding Festival dan Wedding Celebration Festival, serta menerbitkan buku tahunan "Weddingku Diary" yang merupakan buku panduan dan inspirasi untuk setiap calon pengantin. Weddingku Diary berisi Wedding Planner, Address Book, Gallery, Quick Bites, Wedding Tips dan Journal. Selain itu Weddingku.com juga menerbitkan Weddingku Catalogue yang berisi daftar alamat lengkap para vendor Wedding di Jakarta dan Surabaya beserta dengan kisaran harga paket weddingnya.

4. Market Place Restructuring
Menurut Hermawan Kartajaya, weddingku.com memperoleh market share sebesar 90% tak lama setelah website ini dilaunching, selain itu situs ini juga dikunjungi lebih dari 10 ribu orang per harinya dalam 3 tahun sejak berdiri. Dengan pangsa pasar yang besar, weddingku.com dapat memikirkan strategi ekspansi ke depannya seperti joint venture dengan beberapa perusahaan retail di bidang wedding service.

5. Market & Product Development Strategy : Market Development Strategies
Setiap calon pengantin pasti membutuhkan suatu solusi yang tepat untuk membantu mereka mempersiapkan pernikahan idamannya. Karena jangkauan internet yang tidak terbatas dan kapasitasnya untuk menyampaikan informasi secara cepat, dunia Internet adalah media yang paling ideal untuk menyampaikan informasi secara tepat dan terfokus.

Survey yang dilakukan pada tahun 2002 menunjukkan bahwa mayoritas terbanyak (51%) pengguna internet berumur antara 26 sampai 35 tahun. Hal ini sangat sesuai dengan usia calon-calon pengantin di Indonesia.

Seiring dengan penggunaan internet yang kian meningkat di Indonesia, para calon pengantin ini beralih kepada media internet sebagai tempat untuk mencari segala hal yang berhubungan dengan persiapan pernikahan mereka.

Weddingku.com dapat membaca peluang akan adanya customer needs, mereka menyadari kurang tersedianya informasi yang lengkap untuk para calon pengantin. Informasi-informasi seputar persiapan pernikahan biasanya masih tersebar dan belum terorganisir dengan rapi, serta masih bersifat tradisional sehingga para calon pengantin harus mengunjungi beberapa tempat hanya untuk mendapatkan informasi tertentu. Dengan mengunjungi weddingku.com, customer mendapatkan semua informasi yang mereka butuhkan cukup dengan klik dan klik.

6. Positioning & Differentiation Strategies : Pricing Performance Exellence dan Transactional Exellence
Dengan menawarkan berbagai paket promo, customer mendapatkan harga yang terjangkau dan lebih murah dengan fasilitas lengkap sesuai kebutuhan. Selain itu, terdapat juga informasi ketersediaan paket promo, new update / product , dan advanced partner dengan memberikan label p, n, a pada setiap vendor partner.




Erika
0840000874
Binus Business School

Proyek
Create a summary guide for a small retailer company about the stages that are necessary in the creation of a web site and the management issues involved

Analisis :

Secara umum, retailer adalah pembeli barang dalam jumlah besar (large quantities) yang kemudian menjual kembali barangnya dalam jumlah yang lebih kecil (smaller quantities).

Website adalah suatu kumpulan web page yang berisi dokumen dalam bentuk artikel, gambar,video, dan aset digital lainnya yang ditempatkan dalam satu web server dan biasanya dapat diakses melalui internet.

Lalu langkah apa yang diperlukan oleh small retailer dalam membangun suatu website untuk perusahaannya ? Berikut ringkasannya :

1. Menentukan konsep dan konten

Di sini kita menentukan akan seperti apakah website kita secara keseluruhan, baik penampilan maupun isinya, apakah cocok dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan ? Hal-hal yang dapat dipertimbangkan antara lain :
  • Penampilan (desain & layout).
penampilan dibuat sesuai dengan target market, siapakah yang nantinya mengunjungi website
  • Produk
website yang baik berisi informasi yang jelas mengenai produk yang ditawarkan
  • Software
penggunaan software yang tepat sangatlah bermanfaat dalam pembuatan website, misalnya penggunaan FTP (File Transfer Protocol), Dreamweaver, Flash, Joomla!, dsb
  • Database
Data apa saja yang perlu dimasukkan ke dalam database yang nantinya akan berguna bagi perusahaan
  • Penambahan aplikasi lain
menambahkan aplikasi lain yang sesuai dengan konsep website seperti : paypal untuk melakukan pembayaran, auto responder untuk melakukan otomatisasi respon seperti direct mail maupun newsletter, atau program afiliasi apabila diperlukan


2. Memilih web hosting dan domain

Setelah segala macam pernak-pernik tentang website ditentukan, selanjutnya adalah memilih domain. Pilih domain yang sesuai dengan konsep website dan mencerminkan perusahaan. Bila sudah mendaftarkan domain dan web hosting, website yang telah diupload siap untuk go online.

3. Testing

Setelah website go online, kita perlu mengadakan test apakah website tersebut berjalan dengan baik. Pada tahap ini, diperlukan keahlian teknis dalam mengelola website, termasuk pengecekan error maupun bug, security, kompatibilitas browser, aksesibilitas server, dsb.

4. Promosi

Bila website berjalan dengan baik, maka selanjutnya perlu dilakukan promosi. Tujuannya jelas agar target market mengetahui keberadaan website kita. Ada 1001 cara untuk mempromosikan web, mulai dari yang tanpa biaya sampai yang memakan banyak biaya. Beberapa cara antara lain dengan meningkatkan traffic sehingga website kita muncul pada halaman awal search engine, memasang banner pada website lain, menjalankan advertising pay per click, mengadopsi program afiliasi, dan lain-lain.

5. Maintenance dan evaluasi

Dengan adanya history data, kita dapat mengetahui apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh customer. Kita perlu melakukan evaluasi terhadap customer needs and wants serta melakukan maintenance seperti mengupdate konten dan melakukan CRM. Bila kedua hal tersebut dilakukan secara berkala, akan memungkinkan suatu website berkembang menjadi lebih baik dan meningkatkan profit perusahaan.


Setelah kita mengetahui beberapa tips dan trik membangun suatu website, tentu dalam prakteknya kita akan menjumpai banyak permasalahan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Di sini saya akan membahas sedikit tentang permasalahan yang sering terjadi terkait dengan management issue, antara lain :

1. Masalah yang berhubungan dengan hukum
  • Pastikan konten dan segala kebijakan (policy) yang terdapat dalam website tidak melanggar hukum, seperti pencurian hak cipta, pembajakan, pornografi, dan hal-hal yang bersifat melanggar hukum. Orisinalitas konten seperti foto, artikel, video dsb harus diperhatikan.
  • Bila source mengijinkan file nya digunakan untuk kepentingan komersial, sebisa mungkin sertakan link serta sumber yang jelas. Tentu kita juga tidak ingin bila website kita disalahgunakan dalam dunia maya bukan ? Hormatilah orang lain maka Anda akan dihormati.

2. Masalah yang berhubungan dengan technical development
  • Pastikan kita mengadopsi teknologi dan aplikasi sesuai dengan kebutuhan tipe bisnis, misalnya penerapan SCM dan CRM dengan pemanfaatan database.
  • Security pada data yang terdapat dalam website, misalnya dengan melakukan back up dan proteksi database
3. Masalah yang berhubungan dengan operasional
  • Budgeting, membuat anggaran khusus untuk melakukan maintenance website serta promosinya. Jangan sampai website tidak up-to-date atau terbengkalai karena masalah over cost.
  • e-commerce system, misalnya menerapkan sistem yang aman untuk pembayaran sampai delivery (shipping) sehingga customer satisfaction dapat tercapai.
  • Adanya training kepada administrator website maupun customer service untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada customer dan menghindari seringnya terjadi human error.



Erika
0840000874
Binus Business School


Referensi :
Formula Bisnis
website issue